Jumat, 26 Desember 2014

Kisah sedih

KESEDIHAN SEORANG AYAH




25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan.
Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami
ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam
tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa
sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa d! an salam
sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur
karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku
sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku..
Cita-cita kami sederhana,ingin hidup bahagia

.22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan
keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya
momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia
bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi
baik hingga dia tampak ! sempurna. Kulitnya masih merah,
mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang, dia tak
dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus
bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak
mau menerima kami.. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk
memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin,
suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.

19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang
berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke
kursi la! lu dari kursi ke lantai kemudian berteriak
‘Horeee, Iya bisa terbang’. Begitulah dia
memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu
merekah seperti mawar di pot halaman rumah. Dan Kania tak
jarang berteriak, ‘Iya sayaaang,’ jika sudah
terdengar suara ‘Prang’. Itu artinya, ada yang
pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca..
Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat
dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya
terpental. Dan dia cuma bilang ‘Kenapa semua kaca di
rumah ini selalu pecah, Ma?’

18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal
dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin
lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak
membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi
jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya.
‘Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain
bola!’ tapi aku tidak suka dia menangis terus minta
bola, makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak aku
bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang
sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola
itu. ‘Horee, Iya jadi pemain bola.’

17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan.
Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak
akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak
tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya. Yang aku
tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnyanya dari
sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola
sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah
jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan ‘Iyaaaa’. Sebuah
truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya
berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku
sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang
kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja sementara
pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah
konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata
‘Coba kalau kamu tak belikan ia bola!’

15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang
pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan
menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya
mulai banyak dibe! ntak. Aku hanya bisa membelainya. Dan
bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku
tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar
negeri. Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk
mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan
dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia
memang pergi ke luar negeri

13 tahun yang lalu,

Setahun sejak keper! gian Kania, keuangan rumahku sedikit

membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar

kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk

SMP. Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya.

Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa

melanjutkan sekolah. aku bekerja serabutan, mengerjakan

pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku. Aku

miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh

remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi

keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku

harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup

tegar.


10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku.

Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu

sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan

hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.

‘Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.’ Mungkin

itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar

dia tidak marah walau tak urung menangis juga.

‘Sabar ya, Nak!’ hiburku.

‘Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak

diganggu!’ pintanya padaku. Dan aku menangis. Anakku

maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam

hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari

kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah

semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak

pernah menunjukkan

kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di

bangku SMP.!


7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku,

kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar

kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika

aku masih menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang

membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi

TKI ke luar negeri Sulit baginya mencari pekerjaan di sini

yang cuma lulusan SMP.. Haruskah aku melepasnya karena

alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai

habis dan dia ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan

rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah

itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha

kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak

kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku

baik-baik saja.


4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat ! mengirimi aku uang. Hampir tiga

tahun dia di sana . Dia bekerja sebagai seorang pelayan di

rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan

laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan

sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu

adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah

ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.

Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca

dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu

hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa

salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat

tahajjud. Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti

setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin

untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih

pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.


3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian

pemerintahan luar negeri. kabarnya anakku ditahan. Dan dia

diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami

majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis,

aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin

membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta

bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari

maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku

selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku

hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia

memang bersalah.


2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah.

Dan dia harus menjalani ! hukuman gantung sebagai

balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis


Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya

tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah

keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri.

Wahai Allah kuatkan aku.


Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke luar negeri.

Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya.

Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak.

Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada.. Aku

masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke

arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.


‘Bapak, Iya Takut!’ aku memeluknya lebih erat

lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.

‘Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?’

‘Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya

tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia

jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan

, Pak!’ Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib

anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa

apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku

dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat.

Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,

tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di

Luar negeri selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita

itu.


2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan

hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah

datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.

Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana . Petugas itu

membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass’

Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis.

Setelah yakin suda! h mati, jenazah anakku diturunkan

mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku.

Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis. Aku

mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air

mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

‘Kania?’

‘Mas Har, kau … !’

‘Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!’

‘Iya? Dia..dia . Iya?’ serunya getir menunjuk

jenazah anakku.

‘Ya, dia anak kita. Iya yang ingin jadi pemain bola

jika sudah besar.’

‘Tidak … tidaaak … ‘ Kania berlari ke arah

jenazah anakku. Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit

histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan

secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia

diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya ‘""Terima kasih

Mama.""’

 Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah

tahu wanita itu ibunya.


Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku.

Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir

kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan

di samping kuburan anakku, Kamila. Kata pembantu yang

mengantarkan

jenazahnya padaku, dia sering berteriak, ‘Iya

sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.’ Kamu tahu Kania,

kali ini yang pecah adalah hatiku.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar